Karya Tulis

MEMPERSIAPKAN GENERASI EMAS INDONESIA ABAD 21

Oleh : WIDI ASTUTI, S.Pd.

                Abad 21 adalah masa dimana generasi kedepan menghadapi berbagai macam tantangan. Pasar bebas, radikalisme, pornografi  karena penggunaan gadget yang sudah tak bisa dibendung lagi, kekerasan fisik maupun psikis dan juga narkoba . Masalah tersebut cukup mendominasi keragaman kegiatan kriminal dan asusila di negeri kita. Sementara generasi emas kita akan hidup dimasa tersebut. Di tahun 2045, mereka akan memegang tampuk kepemimpinan negeri kita tercinta ini. Siapkah generasi kita menghadapi itu?

                Dunia pendidikan tentu haruslah mengantisipasi permasalahan tersebut diatas. Kurikulum 2013 yang menjadi dasar kita dalam mengajar juga sudah mewadahi hal tersebut. Dan hal mendasar yang menjadi tanggungjawab didunia pendidikan adalah pembentukan karakter (character building). Dalam hal ini kementerian pendidikan sudah mencanangkan 5 nilai karakter PPK yaitu Religius, intregitas, gotong- royong, nasionalis dan mandiri. Selain itu juga diperlukan ketrampilan diabad 21 yaitu kreatif dan inovatif, kritis dan berbasis penyelesaian masalah, komunikatif dan kolaboratif atau bisa bekerjasama.

                Mereka yang akan sukses diabad 21 adalah  orang –orang yang mengandalkan kemampuan kreatifitasnya yang tinggi. Sehingga mereka akan berinovasi terus menerus. Tanpa inovasi maka kita akan jauh tertinggal dibelakang. Semakin banyak ide baru yang beragam semakin tinggi tingkat inovasi seseorang. Semakin banyak inovasi semakin kita menguasai dunia yang notabene semakin terus berkembang.

                Kemampuan berikutnya yang harus dikuasai peserta didik adalah berpikir kritis dan berbasis penyelasaian masalah (Critical Thinking and Problem Solving). Dalam hal akademis mereka para peserta didik harus mampu menyelasaikan permasalahan akademisnya dengan mengedepankan berpikir kritisnya. Peserta didik dibiasakan ditantang dengan permasalahan  dengan pendekatan pengajaran yang berbasis scientific  yang dikenal dengan istilah 5 M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi (eksperimen), mengasosiasi (mengolah informasi) dan mengkomunikasikan).

                Selain itu siswa juga harus dibiasakan menyelesaikan permasalahan- permasalahan otentiknya yang sering dijumpainya  dalam kehidupan sehari- hari. Peserta didik diharapkan mampu menggunakan kemampuan yang sudah dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan berbasis pada karakter yang sudah mereka miliki yaitu secara mandiri dengan berbasis religious serta integritasnya yang tak diragukan lagi.

                Diabad 21, mereka yang bisa bertahan hidupnya adalah mereka yang mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dengan berbagai cara lisan maupun tulisan. Para peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan dan multimedia dalam berbagai multibahasa.

                Mereka harus dilatih kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat dalam forum diskusi maupun menyelesaikan masalah dengan gurunya. Siswa harus bisa berkomunikasi juga dengan tehnologi yang sekarang semakin berkembang sangat cepat. Mereka harus bijak berkomunikasi melalui social media yang hampir semua siswa memilikinya. Kemampuan berliterasi harus mereka miliki untuk mendukung ketrampilannya agar bisa bertahan ditengah gencarnya arus komunikasi.

                Hidup diabad 21 ternyata tidak lagi tergantung pada persaingan secara individu. Justru orang –orang yang sukses diabad 21 adalah mereka yang mampu bekerja sama atau berbagai kolaborasi untuk berbagai macam kepentingannya. Peserta didik harus mampu mengasah kemampuannya dalam bekerjasama dengan kelompoknya, mudah beradaptasi dengan berbagai macam peran yang disandangnya dan yang menjadi tanggungjawabnya Mereka yang berhasil adalah yang mampu bekerja produktif dengan yang lain, bisa menempatkan simpati dan empatinya kepada yang lain serta bisa menempatkan  pada situasi sudut pandang yang berbeda. Menjadi pribadi elok yang luwes namun juga tangguh.

                Pendidikan karakter sudah harus menjadi bahan wajib sekaligus mendasar untuk membekali siswa menyiapkan tantangan diabad 21. Seperti pepatah “ ilmu  tanpa agama Buta, Agama tanpa ilmu lumpuh”. Mereka akan semakin paham bahwa ilmu yang mereka miliki harus dibentengi dengan agama dan perlunya ilmu dalam pengamalan agama. Dan sebagai negara yang berdasarkan Pancasila sudah sepatutnya karakter religious, integritas, nasionalisme, gotong royong dan kemandirian harus ditanamkan kepada anak didik kita.

                Literasi juga menjadi bagian yang begitu penting untuk kesiapan mereka diabad 21. Literasi yang dulunya hanya dikatakan sebagai melek huruf, sekarang pengertian itu menjadi semakin berkembang lagi. Mereka tidak hanya berliterasi secara calistung saja, tetapi juga berbagai macam literasi sains, TIK, finansial, budaya, kewarganegaraan dll. Dalam berliterasi mereka juga harus belajar banyak pengetahuan  (Learn),  perlu perubahan wawasan (unlearn) serta mereka seyogyanya bisa mengimplementasikan perubahan baru yang dimilikinya (relearn).

                Dimensi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural maupun metakognisi merupakan pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan pada proses aktif, kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran yang berarti. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam pembelajarannya, mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Mereka merekam informasi yang diapat dari guru, buku teks atau media lain secara aktif. Dan kemandirian seperti inilah yang kelak akan menjadi pribadi yang tangguh menghadapi kerasnya kehidupan diabad 21.

                Untuk itu sudah sepatutnya guru mengajarkan kepada anak didik tidak hanya mempunyai kemampuan kognisi mengingat yang masih level C1, memahami konsep (C2), mengaplikasikan (C3) saja. Tetapi sudah harus mengajarkan bagaimana menganalisa suatu permasalahan (C4), menyatakan baik atau buruk sebuah fenomena atau objek tertentu/menilai(C5) dan yang terakhir sudah selayaknya anak sampai tahap menciptakan sesuatu hal yang baru (C6) yang merupakan level tertinggi.

               

                Membaca dari berbagai chattingan didunia maya tentu kita sangat prihatin dengan curhatan anak- anak yang barusan menempuh Ujian Nasional. Mereka menuliskan jargon -jargon yang menunjukkan betapa mereka belum mampu menyelesaikan soal soal yang HOTS. Padahal menurut kementrian pendidikan, tahun ini masih menyisipkan 10 persen soal HOTS. Dan direcanakan tahun tahun selanjutkan akan semakin ditambah prosentasenya . Padahal kehidupan abad 21 sangat memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Karena persyaratan soal-soal HOTS adalah mengandalkan berpikir kritis, berbasis masalah, trending topik dan tingkat berpikir minimal menganalisa C4.  Lalu yang menjadi pertanyaannya, sudahkah anak didik kita siap menghadapi permasalahan- permasalahan hidup abad 21?

                Peran guru dimasa sekarang menjadi tidak mudah lagi. Guru tidak sekedar menghabiskan waktu berceramah didepan kelas dan melakukan tes saja . Ada 12 peran guru masa kini dalam pembelajaran, guru sebagai pendidik, pengajar, sumber belajar, fasilitator, pembimbing, demonstrator, pengelola,advisor, innovator, motivator, trainer sekaligus evaluator. Sebuah peran yang bukan main- main. Dibutuhkan integritas serta wawasan yang luar biasa. Dan sudah selayaknya guru mendapatkan tempat  dihati bagi dunia perprofesian kita.

SELAMAT HARI PENDIDIKAN TAHUN 2018 BUAT INDONESIAKU TERCINTA

Profil Pembuat

WIDI ASTUTI, S.Pd.

WIDI ASTUTI, S.Pd.

Kontak Kami

SMAN 2 NLITAR

Jl. Ciliwung Kelurahan Bendo

Kota Blitar, 66131

Email: info@sman2blitar.sch.id

Phone: +0342 802 229

Webistewww.sman2blitar.sch.id