Blog

Artikel: “SMA Double Track” Hadir Guna Menjawab Tantangan Kurikulum Merdeka

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Oleh : Eko Sulistiono

Mahasiswa S2 TEP Universitas PGRI Adibuana Surabaya

 

 

 

Kurikulum “Merdeka Belajar” yang diberlakukan secara bertahap pada semua jenjang pendidikan di tanah air, merupakan pengembangan sekaligus penyesuaian dari Kurikulum 2013 sebelumnya. Banyak studi analisis yang melatarbelakangi mengapa kurikulum ini diberlakukan pemerintah. Studi analisis tersebut diantaranya rendahnya daya serap lulusan di dunia kerja maupun disrupsi teknologi. Sebagaimana kita ketahui Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2017 mengalami penurunan menjadi 5,33% dari Februari 2016 yang sebesar 5,50%. Dari 131,55 juta orang yang masuk sebagai angkatan kerja, terdapat 124,54 juta orang yang bekerja, dan sisanya 7,01 juta orang dipastikan pengangguran. Dari jumlah tersebut, pengangguran yang berasal dari jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menduduki peringkat teratas sebesar 9,27% yang disusul oleh pengangguran lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 7,03%.

Bapak Menteri Pendidikan kita menyatakan bahwa Merdeka belajar adalah memberi kebebasan dan otonomi kepada lembaga pendidikan, dan merdeka dari birokratisasi, dosen dibebaskan dari birokrasi vang berbelit serta siswa diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai.”Implementasinya dapat ditempuh dengan (1) Program “hak belajar di luar program studi” untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman (2) Program experiential learning dengan jalur yang fleksibel diharapkan akan dapat memfasilitasi mahasiswa mengembangkan potensinya sesuai dengan passion dan bakatnya.

Implementasi kurikulum merdeka tersebut sudah ditindaklanjuti oleh Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud pada tahun 2021 dengan menggalakkan program “SMK PK” merupakan salah satu program prioritas sebagai upaya pengembangan SMK dengan program keahlian tertentu agar mengalami peningkatan kualitas dan kinerja. Tentunya, pencapaian tersebut harus diperkuat dengan adanya kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), plus hadirnya pemerintah daerah setempat beserta perguruan tinggi vokasi sebagai pendamping. Selain itu, melalui program SMK PK ini juga diharapkan dapat menjadi sekolah rujukan dan pusat peningkatan kualitas dan kinerja sekolah di sekitarnya agar semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja maupun industri. Diharapkan ke depan lulusan SMK di Indonesia, baik yang bekerja, melanjutkan ke perguruan tinggi maupun wirausaha, yang semuanya harus ‘link and match’ dengan dunia usaha dan industri.

Sejalan dengan terobosan ditjen Pendidikan vokasi di atas, Kemendikbudristek melalui Ditjen Pendidikan menengah juga tengah merintis dan menggalakkan program serupa yakni SMA double track. Sistem Double Trackadalah suatu sistem pembelajaran yang menggabungkan cara belajar SMA yang diberi keterampilan tambahan.

Penambahan keterampilan ini membuat siswa siap kerja apabila tidak ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Istilah Double Trackjuga termaktub pada peraturan Gubernur Jawa Timur nomor 139 tahun 2018 yakni Double Trackmerupakan istilah yang diberikan kepada sekolah yangmenyelenggarakan dua program pendidikan yaitu pendidikan formal dan program keterampilan kewirausahaan.17 Program Double Trackmerupakan sebuah inovasi pembelajaran yang dikhususkan bagi siswa SMA yangberencana tidak melanjutkan ke perguruan tinggi agar tetap mampu bekerja atau berwirausaha, sehingga tidak berpotensi menjadi pengangguran. Sistem Double Trackdikonsep sebagai kegiatan ekstrakurikuler, denganketentuan setiap siswa minimal satu tahun mengikuti sistem jalur gandatersebut. Melalui program Double Trackdengan memberikan kompetensi tambahan guna dapat meningkatkan mutu pendidikan serta menanggulangilahirnya pengangguran terbuka dari lulusan SMA yang tidak melanjutkan

Program Double Trackmerupakan sebuah inovasi pembelajaran yang dikhususkan bagi siswa SMA yangberencana tidak melanjutkan ke perguruan tinggi agar tetap mampu bekerjaatau berwirausaha, sehingga tidak berpotensi menjadi pengangguran. Sistem Double Trackdikonsep sebagai kegiatan ekstrakurikuler, denganketentuan setiap siswa minimal satu tahun mengikuti sistem jalur ganda tersebut. Melalui program Double Trackdengan memberikan kompetensi tambahan guna dapat meningkatkan mutu pendidikan serta menanggulangi lahirnya pengangguran terbuka dari lulusan SMA yang tidak melanjutkanke perguruan tinggi.

Dalam mengembangkan kurikulum “Double Track”, setiap satuan Pendidikan dalam hal ini SMA diberikan kebebasan guna mewujudkan lulusan dengan SDM yang punya daya saing tinggi sesuai dengan minat, bakat, serta keterampilan siswanya dengan memanfaatkan kearifan lokal. Tentu saja dalam penyusunannya, kurikulum Double trac juga harus memperhatikan tahapan penyusunan kurikulum dan dasar pengembangannya. Menurut Hamalik, 2010. Tujuan pengembangan kurikulum adalah goals dan objectives. Tujuan sebagai goals dinyatakan dalam rumusan yang lebih abstrak dan bersifat umum, dan pencapaiannya relatif dalam jangka panjang. Adapun tujuan sebagai objectives lebih bersifat khusus, operasional, dan pencapaiannya dalam jangka pendek.

Prinsip pegembangan kurikulum Double Trackjuga didasarkan oleh salah satu prinsip dasar pengembangan yakni Prinsip relevansi artinya secara internal, kurikulum memiliki relevansi antara komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi, dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal komponen itu memiliki relevansi dengan tuntutan sains dan teknologi (relevansi epistemologis), tuntutan dan potensi siswa (relevansi psikologis), serta tuntutan dan kebutuhan pengembangan masyarakat (relevansi sosiologis), Maka dalam membuat kurikulum harus memperhatikan kebutuhan lingkungan masyarakat dan siswa di sekitarnya, sehingga nantinya akan bermanfaat bagi siswa untuk berkompetisi di dunia kerja yang akan datang.(Sofiyah, 2018).

Atas dasar terori dan prinsip pengembangan tersebut maka dalam merumuskan dan mengembangkan kurikulumnya, satuan pendidikan harus melalui tahapan pengembangan yakni meliputi: Studi kelayakan(analisis kebutuhan), penyusunan konsep, pengembangan serta uji coba. Sehingga dalam implikasi nyatanya sekolah dapat merumuskan kurikulum “Double Track” mulai dari merumuskan tujuan, konten/isi kurikulum, aktifitas belajarnya, sumber belajar yang digunakan dan evaluasi hasil belajar. Tujuan dalam hal ini merupakan upaya mewujudkan profil lulusan yang ingin dicapai dimana dalam hal ini siswa SMA yang berkompeten dalam keilmuan maupun siap kerja. Konten atau isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yang meliputi bahan kajian dan mata pelajaran. Isi kurikulum adalah mata pelajaran pada proses belajar mengajar, seperti pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan mata pelajaran. Pemilihan isi menekankan pada pendekatan mata pelajaran (pengetahuan) dan pendekatan proses (keterampilan).

Aktivitas belajar dapat didefenisikan sebagai berbagai aktivitas yang diberikan pada pembelajar dalam situasi belajar mengajar. Aktivitas belajar ini didesain agar memungkinkan siswa memperoleh muatan yang ditentukan, sehingga berbagai tujuan yang ditetapkan, terutama maksud dan tujuan kurikulum dapat tercapai. Sumber atau resources yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut antara lain adalah sebagai berikut : 1. Buku dan bahan tercetak, 2. Perangkat lunak komputer, 3. Film dan kaset video, 4. Kaset, 5. Televisi dan proyektor, Evaluasi atau penilaian dilakukan secara bertahap, berkesinambungan, dan bersifat terbuka. Dari evaluasi ini dapat diperoleh keterangan mengenai kegiatan dan kemajuan belajar siswa, dan pelaksanaan kurikulum oleh guru dan tenaga kependidikan lainnya. Dalam pelaksanaan evaluasi ini, terdapat banyak instrument pengukuran yang dapat dipergunakan oleh pendidik, antara lain: 1. Tes standar, 2. Tes buatan guru, 3. Sampel hasil karya, 4. Tes lisan, 5. Observasi sitematis dan sebaginya.

Adapun   ruang   lingkup   dalam    penyelenggaraan   program    Double    Track berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Timur Nomor 139 Tahun 2018 pasal2 (dua) meliputi: (a) pemetaan peserta didik dan pemetaan sekolah; (b). materi pelatihan dan pengembangan program; (c).pendidik, tenaga pelatih (instruktur), sarana dan prasarana; (d). sertifikasi; dan (e). pembiayaan.

Pemetaan peserta didik merupakan kegiatan yang dilakukan untuk melakukan penjaringan data peminatan peserta didik yang dapat mengikuti program double track. Cara yang dilakukan yakni dengan melakukan pendataan peserta didik pada seluruh SMA yang ada di Jawa Timur dan berpotensi tidak melanjutkan untuk berkuliah di perguruan tinggi. Sehingga bisa disimpulkan tidak seluruh peserta didik tingkat SMA di Jawa Timur bisa mengikuti program ini, hal itu karena sesuai dengan tujuan dari program Double Track yaitu untuk mempersiapkan peserta didik masuk dalam dunia pekerjaan namun bagi yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi saja. Program ini juga sebagai upaya memberikan keadilan terhadap peserta didik yang tidak melanjutkan kuliah agar tidak kalah saing dengan peserta didik yang melanjutkan kuliah apabila nanti mencari pekerjaan karena sudah dibekali keterampilan pada program Double Track ini.

Langkah selanjutnya menyiapkan Materi Pelatihan dan Pengembangan Program. Materi pelatihan dari program Double Track ini wajib disusun oleh lembaga sekolah atau SMA yang terpilih untuk menyelenggarakan program Double Track dengan mengacu atau sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang dipilih. Waktu pelatihan program ini dilaksanakan pada jam di luar jam sekolah, sedangkan jumlah jam pelatihan disesuaikan dengan ketentuan yang tertuang di dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.

Pendidik, Tenaga Pelatih (Instruktur), Sarana Dan Prasarana Pendidik yang dimaksud pada program Double Trackmerupakan pendidikan yang memiliki sertifikat keahlian yang diperoleh dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Sedangkan, yang dimaksud tenaga pelatih (instruktur) merupakan tenaga pelatih yang mampu memberikan materi pelatihan yang sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Sehingga apabila para tenaga pendidik dan tenaga pelatih memiliki kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sesuai dengan bidangnya maka akan memudahkan peserta didik dalam mencapai tujuan dari program Double Track ini.

Langkah selanjutnya adalah Sertifikasi yakni ujian Kompetensi dilaksanakan oleh Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menyelenggarakan program double track, ujian kompetensi dilakukan dengan melakukan kerja sama dengan LSP (lembaga sertifikasi). Bagi peserta didik pada SMA penyelenggara Double Track yang sudah mengikuti ujian dan dinyatakan lulus berhak memperoleh Ijazah Formal dan Sertifikat Kompetensi. Terakhi adalah Pembiayaan. Pembiayaan penyelenggara program Double Track pada SMA dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Timur pada Dinas Pendidikan. Pembiayaan ini menjadi standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan (Dinas Pendidikan Jawa Timur, 2018).

Program “SMA Double Track” selain menjawab tantangan Zaman di dunia kerja jika berkaca pada roh “Kurikulum Merdeka Belajar” rasanya tidak salah jika ke depan juga diterapkan bagi SMA yang tidak ditunjuk. Bagi sekolah yang berkualitas dalam arti yang mayoritas lulusannya melanjutkan ke Perguruan Tinggi mungkin dapat melaksanakan kurikulum “Double Track“ guna membekali SDM lulusan dan sekaligus memfasilitasi bakat dan minat siswa selain dari kemampuan akademisnya.

 

Referensi :

https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/kurikulum-merdeka-belajar

https://smadt.net/2021/07/08/program-double-track/

https://merdekabelajar.kemdikbud.go.id/

Kontak Kami

SMAN 2 NLITAR

Jl. Ciliwung Kelurahan Bendo

Kota Blitar, 66131

Email: info@sman2blitar.sch.id

Phone: +0342 802 229

Webistewww.sman2blitar.sch.id