Blog

INOVASI SISALIDU UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALITAS GURU DAN PELAYANAN AKADEMIK

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
 

Penulis:

Abusani (Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)

Mengawali karier sebagai guru TIK di SMAN 2 Blitar pada tahun 2010. Pada tahun 2014 diberi amanah sebagai Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum sampai dengan tahun 2021.

 

ABSTRAK

Pendidikan memiliki peranan penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa dan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan pendidikan dalam membentuk sumber daya manusia yang kompeten melalui ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik. Tantangan globalisasi dan revolusi industri 4.0 yang saat ini dihadapi bangsa dan dunia, juga turut dirasakan dunia pendidikan.

Profesionalitas guru di era revolusi industry 4.0 sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter peserta didik yang unggul dan mampu berdaya saing di abad 21. Secara profesional, guru tidak hanya dituntut sebatas kemampuan mentransfer ilmu kepada siswa (peserta didik) sesuai bidang kompetensi yang dimilikinya saja, tetapi diharuskan mampu mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam pembelajaran sehingga tercipta pembelajaran yang efektif, efisien, dan menyenangkan untuk membekali siswa dengan kecakapan hidup 4C yang dibutuhkan untuk bersaing di abad 21, yaitu meliputi kecakapan komunikasi (communication), kolaborasi (collaboration), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving),serta kreativitas dan inovasi (creativity and innovation).

Salah satu inovasi waka kurikulum untuk mengembangkan PROSI (profesionalitas dan inovasi) guru di SMAN 2 Blitar adalah melalui penerapan SISALIDU (Sistem Layanan Akademik Online Terpadu). Inovasi SISALIDU ini merupakan metode yang mengintegrasikan pembelajaran luring dan pembelajaran daring dengan memanfaatkan berbagai sarana dan akses digital, untuk memberikan pengalaman belajar mandiri kepada peserta didik tanpa batasan ruang dan waktu. Best Practise ini bermaksud memaparkan pelaksanaan dan juga capaian dari ‘Inovasi Kurikulum dalam Pengembangan Prosi (Profesionalitas Dan Inovasi) Guru Berbasis SISALIDU dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0 SMAN 2 Blitar 2019-2020’.Metode penulisan yang digunakan dalah best practice dengan pendekatan diskripsi kualitatif. Program pengembangan Prosi SISALIDU diawali semenjak penulis selaku Kurikulum melihat peluang dan tantangan yang akan dihadapi dalam ra industri 4.0, dari situlah kemudian dicanangkan beberapa program yang bersifat berlanjut dan terintegrasi terhadap Guru dan Karyawan SMAN 2 Blitar untuk meningkatkan performa pelayanan terhadap siswa berbasis IT. Tentunya hal ini dimulai dengan sesuatu yang sederhana, seperti aplikasi- aplikasi yang umum terlebih dahulu sebelum menuju aplikasi atau program digital yang lebih kompleks.

Hasil dari Program Kurikulum terhadap Guru yakni pengaplikasian IHT lebih mendalam dan terstruktur kepada ketua MGMPS. Yakni menyelenggarakan Kegiatan Workshop Peningkatan Kompetensi Guru dengan sasaran yang lebih tajam yakni Ketua MGMPS mengenai “ Pelatihan Office 365 dan Pembuatan Video Pembelajaran  semester ganjil Tahun Pelajaran 2020/2021”. Tujuan kegiatan ini ditajamkan sasarannya adalah untuk; meningkatkan inisiatif dan kreatifitas guru dalam merancang proses pembelajaran dalam masa pandemi COVID-19; Menambah keterampilan pembuatan media pembelajaran dalam bentuk video; Mengefektifkan dan mendaya gunakan MGMP  tingkat sekolah ; meningkatkan mutu layanan pembelajaran. Yang dikemas dalam bentuk Brainstorming (curah gagasan) yaitu dengan cara mengintegrasikan antara tugas pembinaan dengan pendampingan dari narasumber. Workshop (sanggar kerja) yang pada akhirnya diharapkan dapat menghasilkan Media pembelajaran  dalam bentuk video untuk dapat dikembangkan dan  terapkan di lingkungan SMA Negeri 2 Blitar

Kata Kunci; Prosi (Profesionalitas dan Inovasi), SISALIDU, Pandemi Covid 19, Kecakapan abad 21

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pendidikan memiliki peranan penting dalam menentukan kemajuan suatu bangsa dan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan pendidikan dalam membentuk sumber daya manusia yang kompeten melalui ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik. Tantangan globalisasi dan revolusi industri 4.0 yang saat ini dihadapi bangsa dan dunia, juga turut dirasakan dunia pendidikan. Pendidikan dituntut mampu menyelenggarakan layanan pendidikan berbasis digital dan komputasi secara kontinu tanpa batasan ruang dan waktu. Dengan ini tentunya pendidikan memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat untuk menghadapi tantangan tersebut, salah satunya adalah mempersiapkan tenaga pendidik (guru) yang unggul, kompeten, serta memiliki kecakapan profesional untuk terus berinovasi dan berbenah diri.

Profesionalitas guru di era revolusi industry 4.0 sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter peserta didik yang unggul dan mampu berdaya saing di abad 21. Secara profesional, guru tidak hanya dituntut sebatas kemampuan mentransfer ilmu kepada siswa (peserta didik) sesuai bidang kompetensi yang dimilikinya saja, tetapi diharuskan mampu mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam pembelajaran sehingga tercipta pembelajaran yang efektif, efisien, dan menyenangkan. Di sisi lain, guru juga tetap dibebani untuk membekali siswa dengan kecakapan hidup 4C yang dibutuhkan untuk bersaing di abad 21, yaitu meliputi kecakapan komunikasi (communication), kolaborasi (collaboration), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving),serta kreativitas dan inovasi (creativity and innovation).

Kreativitas dan inovasi tidak hanya dipersiapkan untuk bekal peserta didik saja, tetapi juga harus dimiliki oleh guru profesional.  Guru profesional memiliki kompetensi sesuai dengan standar kompetensi dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Salah satu muatan kompetensi profesional yang harus dimiliki guru adalah penguasaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam berkomunikasi dan juga mengembangkan diri. Mengacu pada hal tersebut, dapat diartikan bahwa guru memiliki kewajiban untuk senantiasa memperbarui dan mengembangkan kemampuan diri, utamanya dalam hal penguasaan dan pemanfaatan teknologi ke dalam pembelajaran.

Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa pemanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran sejauh ini masih belum dapat berjalan maksimal seperti yang diharapkan. Salah satu faktor penyebabnya adalah masih banyak guru yang belum menguasai IT dengan baik dan belum mampu mengintegrasikan pembelajaran digital secara maksimal. Permasalahan tersebut juga terjadi di SMA Negeri 2 Blitar. Kurikulum sebagai pelaksana teknis kebijakan sekolah dalam memanajemen pelaksanaan proses pembelajaran, melihat situasi tersebut sebagai permasalahan sekaligus peluang untuk melakukan inovasi.

 

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Pelaksanaan Inovasi SISALIDU untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru dan Pelayanan Akademik dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 SMA Negeri 2 Blitar Tahun 2019-2020?
  2. Bagaimana Hambatan Inovasi SISALIDU untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru dan Pelayanan Akademik dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 SMA Negeri 2 Blitar Tahun 2019-2020?
  3. Bagaimana capaian dari Inovasi SISALIDU untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru dan Pelayanan Akademik dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 SMA Negeri 2 Blitar Tahun 2019-2020?

 

Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan best practice ini adalah sebagai berikut:

  1. untuk mengetahui proses pelaksanaan Pelaksanaan Inovasi SISALIDU untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru dan Pelayanan Akademik dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 SMA Negeri 2 Blitar Tahun 2019-2020;
  2. untuk mengetahui Hambatan dari Inovasi SISALIDU untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru dan Pelayanan Akademik dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 SMA Negeri 2 Blitar Tahun 2019-2020; dan
  3. untuk mengetahui hasil dari Inovasi SISALIDU untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru dan Pelayanan Akademik dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 SMA Negeri 2 Blitar Tahun 2019-2020.

 

Manfaat

Hasil dari pelaksanaan best practice ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat pada dunia pendidikan yang lebih luas dan menyeluruh. Adapun manfaat yang diharapkan dari pelaksaaan best practice ini terbagi menjadi dua, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis; Manfaat teoritis; Secara teoritis, best practise ini merupakan sebuah karya tulis hasil impementasi ilmu pengetahuan yang dikaitkan dengan permasalahan kontekstual. Capaian dari best practice ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan dapat menjadi sumber referensi karya inovasi kepala sekolah.

Manfaat praktis; Hasil dari pelaksanaan best practise ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan secara menyeluruh, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan profesionalitas dan inovasi guru.

 

 

KAJIAN PUSTAKA

 Pengertian Inovasi

Inovasi secara etimologi berasal dari kata Latin Innovation yang berarti pembaharuan atau perubahan. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju ke arah perbaikan (Subadi, 2011:1). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, inovasi memiliki pengertian penambahan atau pemasukan hal-hal baru. Sedangkan menurut Sa’ud (2008), inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, barang-barang buatan manusia, yang diamati atau dirasakan sebagai suatu yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat).

Ada 3 faktor pendorong dalam penerapan suatu inovasi yakni: pertama, faktor yang paling kritis adalah sumber-sumber dana; tanpa tersedianya sumber-sumber ini baik yang telah ada maupun yang dapat disediakan tidak mungkin menjalankan inovasi. Kedua, faktor yang kedua ialah kesiapan kapasitas para anggota dalam organisasi tadi; dan Ketiga, karakteristik-karakteristik organisasi yang bersangkutan; seperti pendistribusian wewenang dalam pengambilan keputusan serta kekuatan (regidity) cara-cara beroperasinya organisasi yang bersangkutan (Suryadi, 2012).

 

Layanan Akademik

Pelayanan akademik dalam pekerjaan teknis administrasi, Menurut (Kotler & Lee, 2008) setiap kegiatan yang ditawarkan dan dilakukan baik secara fisik maupun logical dan pelayanan yang ditawarkan oleh pihak akademik atau admisi kepada peserta didik dan civitas akademika yang lain, pada dasarnya tidak menghasilkan kepemilikan. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, pelayanan akademik yaitu serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (intangileble) dan kasat mata dari pihak instansi sekolah kepada sivitas akademika khususnya peserta didik yang melakukan proses registrasi, ujian, laporan nilai, dan penilaian Akhir.

Jenis kegiatan yang terkait dengan layanan akademik : Asesmen adalah proses penilian/penaksiran terhadap lingkungan perkembangan dan perserta didik. a. Asesmen terhadap lingkungan perkembangan peserta didik Asesmen terhadap lingkungan perkembangan peserta didik adalah proses penilaian/penaksiran terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan peserta didik yang berada dalam konteks lingkungan perkembangan mereka. Asesmen ini ditujukan untuk memotret gambaran harapan dan kondisi lingkungan perkembangan peserta didik. Hasil yang diharapkan adalah gambaran tentang harapan dan kondisi objektif lingkungan perkembangan mereka. b. Asesmen terhadap peserta didik Asesmen terhadap peserta didik adalah proses penilaian/penaksiran terhadap perkembangan peserta didik. Asesmen ini ditujukan untuk memotret gambaran perkembangan peserta didik. Hasil yang diharapkan dari asesmen ini adalah gambaran tentang harapan dan kondisi peserta didik;

Orientasi Layanan adalah bantuan awal pembelajaran agar peserta didik mengenal lingkungan, iklim, dan budaya Sekolah/Madrasah. Melalui layanan orientasi peserta didik diharapkan mengenal lingkungan, personel (Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Dewan Guru, Pegawai Tata usaha, Petugas Laboratorium, Petugas Perpustakaan, Pengurus OSIS dan lain-lain), kegiatan, iklim, dan budaya Sekolah/Madrasah di mana mereka belajar. Pelaksanaan kegiatan layanan orientasi dapat dilakukan terutama pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan cara sebagai berikut. 1) Ceramah tentang lingkungan, iklim, dan budaya Sekolah/Madrasah kepada peserta didik baru sehingga mereka mengenal lingkungan, personel (Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Dewan Guru, Pegawai Tata usaha, Petugas Laboratorium, Petugas Perpustakaan, Pengurus OSIS dan lain-lain), kegiatan, iklim, dan budaya Sekolah/Madrasah. 2) Studi wisata kampus, yakni proses mempelajari lingkungan kampus. 3) Penugasan, yakni menugaskan peserta didik mengenal lingkungan, iklim, dan budaya Sekolah/Madrasah kepada peserta didik baru sehingga mereka mengenal lingkungan, personel (Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Dewan Guru, Pegawai Tata Usaha, Petugas Laboratorium, Petugas Perpustakaan, Pengurus OSIS dan lain-lain), kegiatan, iklim, dan budaya Sekolah/Madrasah. Misalnya menugaskan peserta didik meminta tanda tangan minimal 5 guru, 5 petugas tata usaha dan 5 pengurus OSIS;

Penempatan dan Penyaluran Layanan adalah proses memposisikan (menempatkan) peserta didik sesuai dengan karakteristik dirinya (kemampuan dasar, 5 bakat, minat dan kepribadian), kebutuhan, dan tuntutan lingkungan. Layanan penempatan mencakup pengelompokkan dalam rombongan belajar, kelompok belajar, ekstra kurikuler, penjurusan dan penempatan lainnya sesuai tuntutan yang ada. Berikut ini adalah salah satu contoh langkah–langkah penjurusan dan pemilihan studi lanjutan yang dapat digunakan untuk jenis penempatan lainnya sesuai dengan kebutuhan. a. Penjurusan Langkah-langkah kegiatan pemilihan jurusan ini adalah sebagai berikut. 1) Peserta didik mengisi Form Usulan Pemilihan Jurusan. 2) Guru Bimbingan dan Konseling merekap, membuat rata-ratanya, dan menganalisis nilai mata pelajaran utama masing-masing jurusan. Mata pelajaran utama IPA adalah Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Mata pelajaran utama IPS adalah Sejarah, Geografi, Ekonomi dan Sosiologi. Mata pelajaran utama Bahasa adalah Sejarah, Bahasa Inggris, bahasa asing lain, dan Sosiologi. 3) Guru Bimbingan dan Konseling merekap hasil tes psikologis, Usulan Jurusan dari data Hasil Psikotes, dan menganalisisnya. 4) Guru Bimbingan dan Konseling mengkombinasikan nilai rata-rata mata pelajaran utama jurusan dengan hasil tes psikologis dan usulan peserta didik. 5) Guru Bimbingan dan Konseling mengkonsultasikan baik secara kelompok maupun individual kepada orang tua dan peserta didik juga wali kelas. Hasilnya disampaikan kepada wali kelas. Selanjutnya wali kelas menyampaikan kepada wakasek kurikulum berkoordinasi dengan wakasek kesiswaan untuk menyampaikan jumlah kelas IPA dan IPS kepada Kepala Sekolah. b. Pemilihan Studi Lanjutan Kegiatan pemilihan studi lanjutan diberikan kepada peserta didik kelas XII dalam bentuk layanan informasi baik dilakukan secara klasikal, kelompok, maupun individual. Materi yang disampaikan antara lain meliputi : 1) Jenjang pendidikan S1 dan Diploma beserta persyaratannya 2) Berbagai Universitas / Politeknik beserta keunggulannya masing-masing 3) Berbagai Jurusan yang terkait dengan profesi tertentu. 4) Analisis potensi, minat dan bakat diri sendiri Peserta didik yang mengetahui informasi tentang hal-hal tersebut di atas, diharapkan dapat melakukan evaluasi atas potensi, minat dan bakatnya. Dari hasil evaluasi ini, ia mengarahkan dirinya untuk memenuhi kriteria Jurusan/Universitas yang akan diinginkannya;

Konsultasi belajar merupakan layanan konsultasi dan konseling individu yang diberikan kepada peserta didik agar lebih memahami dan dapat belajar secara efektif sehingga mampu menguasai materi yang diajarkan. Peserta didik diberi peluang konsultasi atau konseling secara individual di luar jam pembelajaran pada hari sekolah. Konseling adalah proses interaksi terapetik antara guru bimbingan dan konseling (konselor) dengan peserta didik dalam rangka memfasilitasi peserta didik mampu mengembangkan diri, mencari solusi terbaik dalam menjaga dan atau menyelesaikan diri dari permasalahan. Konseling dapat dilakukan melalui hubungan yang bersifat membantu (helping relationship) baik dalam proses interaksi langsung (face to face interaction), melalui media (seperti sms, email, buku, dll), atau melalui pengembangan lingkungan yang kondusif. Latihan Keterampilan Belajar Latihan keterampilan belajar adalah proses pembelajaran secara langsung untuk membantu peserta didik mengembangkan keterampilan yang mendukung proses pembelajaran, yaitu konsentrasi,keterampilan membaca, mencatat, menyimak, mengemukakan pendapat, dan keterampilan bertanya. Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pembelajaran Remedial a. Diagnostik kesulitan belajar Diagnostik kesulitan belajar adalah upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakang kesulitan-kesulitan belajar yang dialami peserta didik (Abin Syamsuddin, 2000: 311). Kesulitan belajar dapat terjadi baik karena kelemahan peserta didik dalam memahami isi pembelajaran maupun karena masalah psikologis.

Kelemahan peserta didik dalam memahami isi pembelajaran dapat terjadi baik pada lingkup mata pelajaran maupun substansi tertentu dari salah satu mata pelajaran. Langkah-langkah diagnostik kesulitan belajar adalah sebagai berikut. 1) Identifikasi kasus, yakni menandai peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar. 2) Identifikasi masalah, yakni melokalisasi letak kesulitan masalah. Pada mata pelajaran apa dan pada substansi mana peserta didik mengalami kesulitan. 3) Identifikasi faktor penyebab, yakni menandai jenis dan karakteristik kesulitan dengan faktor penyebabnya. 4) Prognosis, yakni mengambil kesimpulan dan keputusan serta meramalkan kemungkinan penyembuhannya. 5) Rekomendasi/referal, yakni membuat saran alternatif pemecahannya. b. Pembelajaran remedial Pembelajaran remedial adalah upaya guru untuk menciptakan suatu situasi yang dapat membantu peserta didik baik individual maupun kelompok meningkatkan kemampuan dalam menyesuaikan diri dan menguasai materi pembelajaran yang sebelumnya tidak mencapai KKM.

Pembelajaran remedial dapat diberikan oleh guru mata pelajaran dengan pendekatan yang sesuai berdasarkan pada hasil diagnostik yang telah dilakukan oleh guru pembimbing (konselor). Jika berdasarkan hasil diagnostik menunjukkan kesulitan belajar peserta didik disebabkan oleh masalah psikologis maka pembelajaran remedial dapat dilaksanakan setelah peserta didik menyelesaikan masalah psikologisnya. Misalnya, jika kesulitan belajar peserta didik terjadi karena ia tidak memiliki motivasi belajar maka sebelum mengikuti pembelajaran remedial ia seyogianya mengikuti konseling atau bantuan tertentu yang dapat meningkatkan motivasi belajarnya. Setelah peserta didik tersebut memiliki motivasi belajar yang tinggi baru ia diperkenankan mengikuti pembelajaran remedial. Bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar tetapi tidak mengalami masalah psikologis dapat langsung mengikuti pembelajaran remedial bersama guru bidang studi dimana peserta didik mengalami kesulitan belajar. Langkah-langkah pembelajaran remedial adalah sebagai berikut. 1. Penelaahan kembali kasus sesuai rekomendasi/referal berdasarkan diagnostik kesulitan belajar. 2. Pilihan alternatif tindakan, yakni konseling dahulu jika peserta didik mengalami masalah psikologis atau langsung melaksanakan pembelajaran remedial jika peserta didik tidak mengalami masalah psikologis. 3. Pelaksanaan pembelajaran remedial oleh guru bidang studi baik individual maupun kelompok. 4. Pengukuran hasil belajar pada pembelajaran remedial. 5. Evaluasi kesuluruhan proses pembelajaran remedial, terutama jika peserta didik masih belum mencapai KKM. Lalu dilakukan lagi reevaluasi dan re-diagnostik sampai peserta didik betul-betul mencapai KKM. 6. Pengembangan Motivasi Belajar Latihan pengembangan motivasi belajar merupakan layanan bimbingan untuk memfasilitasi peserta didik memiliki motivasi belajar yang tinggi. Latihan pengembangan motivasi belajar sedikitnya dapat dilakukan dengan teknik modeling dan latihan pengembangan motivasi belajar. a. Teknik Modeling Pengembangan motivasi belajar melalui teknik modeling ditujukan untuk memberi contoh konkrit motivasi diri yang kuat mampu membawa setiap orang berhasil menggapai cita-citanya. Tujuan program ini adalah peserta didik mendengar langsung pengalaman nara sumbernya. Adapun nara sumber pelatihan motivasi ini bisa orang tua murid dari berbagai profesi, public figure, atau seseorang yang profesional di bidangnya.

Teknik penyajian materi adalah ceramah, diskusi dan unjuk kerja (performance). b. Latihan Pengembangan Motivasi Belajar Pengembangan motivasi belajar melalui latihan ini ditujukan untuk menumbuhkan motivasi belajar dalam diri peserta didik. Pelaksanaannya jika guru bimbingan dan konseling (konselor) memiliki kemampuan dalam teknik ini maka kegiatan ini dapat dilakukan oleh konselor, jika tidak maka pelaksanaannya melibatkan pihak lain yang berkompeten pada bidang ini. 9. Layanan Konsultasi Rencana Studi Layanan konsultasi rencana studi merupakan bantuan kepada peserta didik untuk mampu merencanakan studi sejak masuk, selama studi, dan studi lanjut. Dalam jangka panjang peserta didik difasilitasi untuk menentukan pilihan dan membuat perencaan studi selama belajar di SMA.

 

Sistem Layanan Akademik Online Terpadu

Sistem Layanan Akademik Online Terpadu ini digagas penulis untuk mempermudah akses input, feedback maupun output dari peserta didik dan civitas pendidikan di sekolah agar memanfaatkan kemudahan teknologi informasi agar efektif dan efisien.

SISALIDU  merupakan sebuah inovasi yang digagas penulis sejak tahun 2019. yang menjadi ciri khas SMA Negeri 2 Blitar ini sejatinya merupakan adaptasi dari model layanan akademik terpadu satu pintu dibawah naugan manajerial kurikulum SMA Negeri 2 Blitar yang menggabungkan seluruh kegiatan layanan akademik menjadi lebih kompleks dengan alur yang jelas dan satu komando berbasis internet atau digital. Inovasi yang mengintegrasikan pengelolaan layanan sekolah (termasuk pembelajaran dan layanan pendidikan yang ada di dalamnya) dengan berbasis ­platform digital. Adapun platform yang digunakan beragam, mulai dari yang bebas biaya seperti hingga yang premium berbayar, misalnya Teams. Teams ini merupakan platform utama sebagai wadah interaksi dan juga komunikasi warga sekolah selama pembelajaran daring berlangsung. Akan tetapi, di luar itu, guru diberikan kebebasan untuk berinovasi dalam memanfaatkan berbagai media digital yang ada agar siswa tidak jenuh dan pembelajarna terasa lebih variatif.

Diharapkan SISALIDU ini mampu mengolaborasi pembelajaran tatap muka (luring) dan daring dapat saling melengkapi dengan keunggulannya masing-masing, terciptanya kemandirian belajar tanpa mengenal ruang dan waktu, memberikan kemudahan aksesbilitas bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran secara lebih luas Pembelajaran lebih efektif dan efisien.

Implementasi SISALIDU dapat berupa penyampaian informasi, komunikasi, dan interaksi pendidikan, meliputi kegiatan pembelajaran hingga pengelolaan layanan sekolah secara daring; menyedikan seperangkat piranti yang dapat memperkaya nilai belajar konvensional secara lebih mendalam dan luas; namun tidak berarti menggantikan pembelajaran tatap muka di kelas, tetapi melengkapinya dengan pengayaan konten dan pengembangan teknologi pendidikan secara luas dan menyeluruh; penggunaan bahan ajar yang bersifat mandiri, dapat diakses oleh guru dan siswa tanpa mengenal batasan tempat dan waktu.

 

Pelatihan dan Bimbingan

Memberikan pelayanan pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning) kepada masyarakat, munculah berbagai konsep mengenai pendidikan non formal untuk diselenggarakan, banyaknya pihak yang membahas mengenai pendidikan non formal yang dianggap sebagai pendidikan yang mampu memecahkan berbagai masalah layanan pendidikan masyarakat, salah satunya dengan kegiatan pelatihan. Istilah pelatihan tidak terlepas dari latihan karena keduanya mempunyai hubungan yang erat, latihan adalah kegiatan atau pekerjaan melatih untuk memperoleh kemahiran atau kecakapan. Sedangkan tujuan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang agar mereka yang dilatih mendapat pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi sesuai harapan dan tujuan yang di inginkan mengikuti kegiatan pelatihan.

Pelatihan adalah bagian dari pendidikan yang merupakan sarana pembinaan dan pengembangan karir serta salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Pada kajian ini penulis memfokuskan pada makna pelatihan. Para ahli banyak berpendapat tentang arti dan definisi pelatihan, namun dari berbagai pendapat tersebut pada prinsipnya tidak jauh berbeda.

 

Revolusi Industri 4.0

World Economic Forum (WEF) menyebut revolusi industri 4.0 adalah Revolusi Industri berbasis cyber physical system yang secara garis besar merupakan gabungan tiga domain yaitu digital, fisik, dan biologi. Revolusi Industri 4.0 merupakan salah satu pelaksanaan proyeksi teknologi modern Jerman 2020 yang diimplementasikan melalui peningkatan teknologi manufaktur, penciptaan kerangka kebijakan srategis, dan lain sebagainya, ditandai dengan kehadiran robot, artificial intelligence, machine learning, biotechnology, blockchain, internet of things (IoT),serta driverless vehicle.

Adanya Revolusi Industri 4.0 ini tidak hanya berdampak pada tatanan dunia secara menyeluruh, bidang pendidikanpun merasakan peluang dan tantangannya. Revolusi Industri 4.0 memberikan peluang bagi dunia pendidikan untuk mengembangkan inovasi kreatif guna mempersiapkan peserta didik sebagai generasi unggul, kompeten, dan mampu bersaing di era industri abad 21. (Theffidy, 2020).

Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 menggambarkan berbagai cara mengintegritaskan teknologi cyber baik secara fisik maupun non fisik dalam pembelajaran. Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan revolusi industri dengan penyesuaian kurikulum baru sesuai situasi saat ini. Kurikulum tersebut mampu membuka jendela dunia melalui genggaman contohnya memanfaatkan internet of things (IOT). Di sisi lain pendidik juga memperoleh lebih banyak referensi dan metode pengajaran.

Akan tetapi hal ini tidak luput dari tantangan bagi para pengajar untuk mengimplementasikannya. Latip  (2018) menyatakan dalam setidaknya ada 4 kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh pendidik. Pertama, keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Merupakan kemampuan memahami suatu masalah, mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya sehingga dapat dielaborasi dan memunculkan berbagai perspektif untuk menyelesaikan masalah. Pengajar diharapkan mampu meramu pembelajaran dan mengekspor kompetensi ini kepada peserta didik. Kedua, Keterampilan komunikasi dan kolaborasi. Keterampilan ini tidak luput dari kemampuan berbasis teknologi informasi, sehingga pengajar dapat menerapkan kolaborasi dalam proses pengajaran.

Ketiga, kemampuan berpikir kreatif dan inovatif. Diharapkan ide-ide baru dapat diterapkan pengajar dalam proses pembelajaran sehingga memacu siswa untuk beripikir kreatif dan inovatif. Misalnya dalam mengerjakan tugas dengan memanfaatkan teknologi dan informasi. Keempat, literasi teknologi dan informasi. Pengajar diharapkan mampu memperoleh banyak referensi dalam pemanfaatan teknologi dan informasi guna menunjang proses belajar mengajar.

Bagi sekolah dan dunia pendidikan,  revolusi industri 4.0 diharapkan mampu mewujudkan pendidikan cerdas yang mampu melahirkan peserta didik yang berkompeten dan mampu berdaya saing di abad 21, melalui perluasan akses dan pembelajaran mandiri tanpa batasan ruang dan waktu. Untuk mewujudkan hal tersebut, pengelolaan sistem pembelajaran di sekolah dilakukan melalui penerapan SISALIDU (Sistem Akademik Layanan Online Terpadu), dengan mengkolaborasikan berbagai platform pembelajaran digital yang mendukung pembelajaran.

 

 

PEMBAHASAN

 Analisa Permasalahan dan Target Pengembangan Sekolah

SMA Negeri 2 Blitar sebelum tahun 2017 memiliki beberapa potensi pengembangan Inovasi pembelajaran namun belum termaksimalkan, terbukti dengan minimnya hasil karya inovasi pembelajaran guru yang dihasilkan atau direlease secara tertulis oleh guru maupun kelembagaan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kejenuhan dalam melakukan pembelajaran yang kurang menarik, kurangnya fasilitas yang memadai dan wadah komunitas guru untuk berkembang, belum ada stimulus program yang dapat menggali atau mewadahi potensi inovasi pembelajaran.

Inovasi pendidikan merupakan perubahan pendidikan yang didasarkan atas usaha-usaha sadar, terencana, berpola dalam pendidikan yang bertujuan untuk mengarahkan, sesuai dengan kebutuhan yang dihadapi dan tuntutan zamannya. Dalam inovasi pendidikan, gagasan baru sebagai hasil pemikiran kembali haruslah mampu memecahkan persoalan yang tidak terpecahkan oleh cara-cara tradisional yang bersifat komersial. Disamping sebagai tanggapan terhadap masalah pendidikan dan tuntutan zaman, inovasi pendidikan juga merupakan usaha aktif untuk mempersiapkan diri menghadapi masa datang yang lebih memberikan harapan sesuai dengan cita-cita yang diinginkan. Dari permasalahan diatas penulis menganalisis bahwasannya sekolah membutuhkan program- program yang bukan hanya menuntut adanya inovasi melainkan program riil yang terstruktur bagi guru maupun siswa dalam pengembangan diri terutama di inovasi pembelajaran, program yang mendukung kemampuan guru dalam berinovasi di era digital.

Hal ini tidak bisa dilakukan secara instan namun proses yang berjalan dengan evaluasi harus terus dipantau agar segera tercipta pembelajaran yang relevan dengan kondisi perkembangan zaman yang serba digital. sehingga penulis menggagas suatu rangkaian program Pelatihan dan Bimbingan untuk menjawab tantangan perkembangan revolusi industri 4.0 agar skill mengajar maupun obyek pembelajaran mendapatkan manfaat maksimal dari pengembangan program ini.

 

Proses Penyelesaian Masalah Inovasi SISALIDU

Program pengembangan Prosi berbasis SISALIDU diawali semenjak 2019 dicanangkan beberapa program yang bersifat berlanjut dan terintegrasi terhadap Guru dan Karyawan SMA Negeri 2 Blitar untuk meningkatkan performa pelayanan terhadap siswa berbasis IT. Tentunya hal ini dimulai dengan sesuatu yang sederhana, seperti aplikasi- aplikasi yang umum terlebih dahulu sebelum menuju aplikasi atau program digital yang lebih kompleks.

Program ini kemudian di manajemen oleh tim Kurikulum SMA Negeri 2 Blitar sangat mendukung apa yang penulis sebut- sebut dalam permasalahan karya tulis ini yakni perlu adanya peningkatan pelayanan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman untuk menghadapi era revolusi 4.0 yang sangat didominasi oleh kemampuan digital. Pelayanan pendidikan tidak hanya fokus kepada guru, hal itu juga dilakukan oleh karyawan/ Tata Usaha SMA Negeri 2 Blitar agar adanya sinergi yang kompak antara kedua unsur tersebut dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi masyarakat Blitar pada umunya.

Dimulai pada bulan April 2019 IHT Pemanfaatan IT dalam Penilaian, hal ini membantu guru untuk melakukan pengolahan nilai siswa lebih efektif dan tepat sasaran. IHT Pemanfaatan IT dalam Penilaian (Penggunaan Aplikasi Soal CBT) dilakukan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam menggunakan IT untuk mengolah penilaian dan memperkaya bank soal. Lalu IHT Penyusunan RPP dan UKBM dengan Pendekatan STEAM, program ini sangat bermanfaat karena memaksimalkan kinerja MGMP dan mengkolaborasikan irisan-irisan materi antar MGMP mapel yang berbeda, agar memudahkan anak dalam mengerjakan project karena dapat digunakan untuk penilaian beberapa mapel, sangat efektif dan efisien, Selanjutnya IHT Penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Pengembangan Profesi Berkelanjutan, program ini sangat membantu bapak/ ibu guru dalam mengembangkan profesionalitas dan berkelanjutan terutama yang berstatus ASN untuk kenaikan pangkat dll. Dengan adanya program ini semakin terbuka wawasan dan informasi update mengenai kenaikan pangkat bahkan dikalangan guru- guru kemudian muncul kelompok- kelompok kecil seperti kelompok karya tulis yang didalamnya bisa saling berbagi dan support tentang pengembangan karya tulis dimasing masing bidang. Hal ini sebelumnya belum terlalu aktif untuk dilakukan bersama tutor dari kalangan internal sekolah.

Kemudian IHT  Kegiatan Pengembangan Sekolah Adiwiyata: Pelatihan Pokja yang menjadi target sasaran utama kegiatan ini adalah siswa agar senantiasa menjadi jiwa utama dari visi misi sekolah dibidang lingkungan dan berbudaya lingkungan. Mereka diberi pelatihan lebih mendalam mengenai kelompok kerja Adiwiyata agar senantiasa menjaga lingkungan dan unsur- unsur Adiwiyata sekolah serta selalu menguatkan pilar pilar pendidikan lingkungan hidup yang sudah menjadi budaya di SMA Negeri 2 Blitar sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri menuju Eco Green School pada tahun 2021. Lalu untuk paguyuban orang tua sekolah juga mengadakan IHT  Penguatan Kompetensi Pengasuhan Positif yang berkaitan dengan Penguatan Kompetensi Orang Tua: Pelatihan Anak di Era Digital dan Sosialisasi SKS Penguatan wawasan tentang cara mendidik anak di era digital dan pemahaman program sekolah (SKS). Hal ini dilakukan agar semua unsur sekolah baik internal maupun masyarakat dalam koteks disini adalah orang tua peserta didik mampu menerima bahkan mendukung penuh program sekolah demi visi misi yang sejalan dengan baik agar segera tercapai tujuan pembelajaran dan pendidikan di SMA Negeri 2 Blitar.

Selama tahun 2019 penulis dalam tim manajerial dan tim pengembang sekolah telah menjalankan serangkaian program yang sangat membantu dan meningkatkan kemampuan seluruh unsur sekolah baik siswa, guru, karyawan, hingga orang tua peserta didik melalui paguyuban orang tua untuk lebih siap menghadapi tantangan masa depan yang entah sampai kapan akan selalu mengalami perkembangan yang sangat cepat dan dinamis serta kompleks seperti saat ini.

Penulis berkomitmen secara berkelanjutan mengembangkan program-program yang telah dilakukan ditahun 2019. Sejak Maret 2020 pembelajaran tatap muka mulai terganggu karena adanya pandemi Covid 19 yang memaksa pembelajaran dilakukan secara jarak jauh melalui daring dan virtual. Oleh karena itu dilakukan Workshop Daring dan Luring Peningkatan  Kompetensi Guru: Penyusunan Modul Pembelajaran serta Workshop Daring dan Luring Peningkatan Kompetensi Guru: “Pemanfaatan IT dalam Pembelajaran Daring” pada workshop ini guru dibekali berbagai macam apilkasi yang dapat digunakan untuk menunjang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) baik yang berbasis materi, instruksi- feedback, kuis maupun Direct Virtual seperti Zoom, Webex dan Teams meeting. Lalu untuk menunjang unsur penilaian dan motivasi dari rumah sekolah juga meningkatkan komunikasi dengan paguyuban orang tua agar tercipta PJJ yang kondisional sehingga tercapai tujuan pembelajaran dalam PJJ.

Proses penyelesaian masalah pembelajaran berbasis digital di SMA Negeri 2 Blitar  dalam hal meningkatkan pelayanan pendidikan di SMA Negeri 2 Blitar terus ditingkatkan dan dikembangkan bahkan yang telah dilakukan dan menjadi sangat berguna dikala pandemi covid 19 seperti saat ini, bahkan SMA Negeri 2 Blitar cenderung lebih siap karena guru, siswa, orangtua dan karyawan sudah dibekali ilmu dan keterampilan yang cukup untuk melakukan PJJ dengan berbagai macam aplikasi digital.

Dalam proses pencapaian target yakni meningkatnya profesionalitas dan inovasi guru serta meningkatnya kecakapan siswa abad 21 dalam menghadapi pembelajaran berbasis digital yang lebih kompleks. Semua program yang digagas penulis ini diwujudkan melalui sinergi yang intens baik jajaran internal sekolah maupun eksternal sekolah. Yang kemudian evaluasi kegiatan dipantau secara periodik untuk mengetahui kebutuhan pembelajaran sudah sampai mana dan sejauh apa. Dari analisis kelebihan kelemahan peluang serta tantangan di masa yang akan datang kemudian penulis merencanakan program yang bersifat berkelanjutan.

Program gagasan ini kemudian akan diimbaskan kepada sekolah mitra atau sekolah imbas sebagai wujud optimalisasi sekolah rujukan yang disandang oleh SMA Negeri 2 Blitar dengan slogan rela berbagi ikhlas memberi, maju bersama hebat semua. Langkah ini sebagai tanggung jawab konkret SMA Negeri 2 Blitar dalam memajukan pendidikan khususnya di Kota Blitar.

 

Pelatihan dan Bimbingan

Sasaran Pelatihan dan Bimbingan

Sasaran kegiatan Pelatihan dan Bimbingan ini adalah seluruh guru di SMA Negeri 2 Blitar sebanyak 56 orang yang tersebar pada mata pelajaran sebagai berikut:

  1. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti : 4 orang
  2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan : 2 orang
  3. Bahasa Indonesia : 5 orang
  4. Matematika : 6 orang
  5. Sejarah : 5 orang
  6. Bahasa Inggris : 4 orang
  7. Seni Budaya : 2 orang
  8. Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Olahraga : 4 orang
  9. Bahasa Jawa : 1 orang
  10. Biologi : 3 orang
  11. Fisika : 3 orang
  12. Kimia : 2 orang
  13. Geografi : 2 orang
  14. Sosiologi : 2 orang
  15. Ekonomi : 3 orang
  16. Bahasa Arab : 1 orang
  17. Bahasa Jepang : 1 orang
  18. TIK/Informatika : 2 orang
  19. Bimbingan Konseling : 4 orang

 

Pelaksanaan Pelatihan dan Bimbingan

Pelaksana Pelatihan dan Bimbingan ini adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik dibantu oleh Tim Kurikulum dan juga staf tata usaha.

 

Waktu dan Tempat Pelatihan dan Bimbingan

Waktu pelaksanaan Pelatihan dan Bimbingan ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Blitar yang berlansung selama satu semester dengan kegiatan yang berkesinambungan mulai tanggal 6 Juli 2020 sampai dengan 2 Oktober 2020.

 

Struktur Program Pelatihan dan Bimbingan

Untuk mencapai tujuan sebagaimana disebutkan diatas, kegiatan Pelatihan dan Bimbingan SISALIDU ini dibagi beberapa tahap dengan Struktur Program sebagai berikut:

Tahap 1: Bulan Juli

 

 

Tahap 2 : Bulan Agustus